Monday, June 28, 2010
Si Kecil Sering "Overacting" di Kelas
Misalnya, dengan menunjukkan sikap tidak mau diam di dalam kelas sehingga merepotkan gurunya atau membuat teman-temannya jengkel. Selain itu, anak ini juga tak segan dan selalu melontarkan berbagai pertanyaan yang sebetulnya tak perlu kepada gurunya pada saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Tentu hal ini membuat Anda kewalahan dengan sikapnya yang terlalu berlebihan dibandingkan sikap teman-teman lainnya. Sikap aktif memang baik. Namun, ada baiknya Anda juga berkonsultasi dan bicara panjang lebar dengan gurunya di kelas, mengenai sikap anak Anda yang terkadang membuat kesal.
Michele Borba, Ed D, penasihat para orangtua, dalam bukunya mengatakan, "Jika anak Anda betul-betul bersikap buruk dan tidak hormat kepada gurunya, Anda harus membuat janji untuk bertemu gurunya dan sang anak, lalu bersama-sama membicarakan secara detail kapan saja sang anak membuat kesulitan di kelas."
Namun, lanjutnya, jika alasan mengapa anak Anda sampai menyulitkan gurunya karena dipicu oleh saling ejek dengan teman-teman lainnya, mungkin yang bermasalah bukan cuma sang anak. Bisa jadi, pihak sekolah pun harus bertanggung jawab dalam menerapkan kedisiplinan kepada murid-muridnya yang lain.
"Sejak masalah yang timbul terlihat semakin berkembang, para orangtua yang mempunyai anak-anak bermasalah dalam bersikap hendaknya bekerja sama dengan pihak sekolah untuk membicarakan lebih lanjut masalahnya itu," lanjut Dr Borba.
Ada baiknya, lanjut Borba, ketika kelas sedang istirahat, Anda menengok keadaan anak, apakah ia memang bertingkah laku menyulitkan atau teman-teman dan pihak sekolahnyalah yang merangsang sikapnya yang overacting.
Yang terpenting, tambah Borba, jika anak Anda memang terbukti bermasalah dengan sikap dan tingkah lakunya, pihak sekolah harus membuat kesepakatan dengannya. Jangan sampai masalah ini Anda telan sendiri dengan menerapkan kedisiplinan keras terhadap anak, apalagi sampai melakukan tindak kekerasan fisik terhadapnya.
Bagaimanapun juga, untuk menyelesaikan masalah ini, tidak bisa Anda sendiri yang menangani. Perhatian dari pihak sekolah, terutama guru-gurunya di kelas, sangat penting untuk mendampingi anak-anak yang terbukti bermasalah dalam bertingkah laku. "Mengawasi anak bermasalah bisa dilakukan saat mereka sedang istirahat atau bermain," imbuh Borba.
Tuesday, June 22, 2010
Si Dia Belum Melupakan Mantannya?
Dia terlihat sempurna di mata Anda. Tetapi ada satu problem utamanya: dia belum bisa melupakan mantannya. Anda mungkin hanya bisa menebak-nebak apa yang ada dilakukan atau dipikirkannya. Bila ia melakukan hal-hal berikut ini, maka dugaan Anda tidak salah:
1. Tiba-tiba menyebutkan nama mantannya dalam topik pembicaraan Anda. Ini pertanda yang amat jelas bahwa ia masih punya perasaan pada mantannya. Meskipun ia membicarakan hal yang buruk-buruk tentang mantannya, ini menunjukkan bahwa ia masih mengingat jelas setiap kejadian bersamanya.
2. Membanding-bandingkan Anda dengan mantannya. Jika si dia membandingkan Anda dengan mantannya, kemungkinan hal itu pertanda bahwa dia belum rela kehilangan si mantan. Atau, ia memang menganggap Anda tidak memiliki kelebihan tertentu yang dulu dimiliki sang mantan. Tentu saja hal ini tidak adil untuk Anda. Ambil kejadian ini sebagai dorongan untuk menunjukkan sisi diri Anda yang lebih baik. Bila ia masih juga membandingkan diri Anda dengan mantannya, ya sudah, tinggalkan saja.
3. Masih sering bertemu mantannya. Jangan sampai hal itu keterusan, meskipun pertemuannya dikarenakan urusan pekerjaan. Mungkin Anda ingin berprinsip bahwa Anda tidak akan terlalu mengekangnya, tetapi bila ia terus-menerus mengorbankan waktunya untuk bersama mantan, lama-kelamaan keadaan itu akan menjauhkan Anda berdua. Jangan segan untuk menyampaikan keberatan Anda. Bila ia memang peduli pada Anda, ia akan mengerti mengapa Anda keberatan.
4. Secara rutin menelepon mantannya. Meskipun hanya menelepon, bukan berarti hal ini tidak begitu buruk jika dibandingkan dengan jalan bareng. Masalahnya, apa yang mereka bicarakan? Sekadar mengirim kabar, membicarakan masa lalu, atau karena masih saling merindukan? Jangan biarkan si dia membicarakan perasaan-perasaannya ketika sedang menelepon sang mantan.
5. Tanpa sengaja memanggil Anda dengan nama mantannya. Ini juga salah satu pertanda bahwa sosok sang mantan masih jelas terbayang dalam benaknya. Bukan tak mungkin ia masih sering memikirkannya. Bila hal ini terjadi pada awal-awal berpacaran sih, tidak masalah. Toh, semua hal itu butuh waktu. Namun jika hal ini terjadi setelah Anda berpacaran cukup lama, dan ia tidak pernah meminta maaf, jangan biarkan jadi keterusan.
6. Dia masih menyimpan barang-barang sang mantan. Mungkin setelah merasa nyaman bersamanya, Anda ingin bertemu dengan keluarga dan main ke rumahnya. Tetapi apa yang Anda lihat di rumahnya? Ternyata ia masih memajang foto-foto mantan di rumahnya, dan bahkan foto mereka berdua di kamar, dan di laptopnya. Ya ampun! Hati-hati ladies, jangan-jangan dia menikmati foto tersebut dan ingin selalu mengenang masa-masa indahnya dulu.
7. Mendengarkan musik yang liriknya tentang putus atau berpisah. Jika ia masih senang mendengarkan lagu-lagu mellow yang biasa didengarkan oleh mereka yang baru saja putus, berarti ia masih belum bisa melupakan rasa sakit saat berpisah. Bahkan kalau ia mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang, mungkin saja itu lagu kenangan mereka.
8. Membawa Anda ke tempat yang biasa mereka kunjungi. Coba perhatikan ketika ia berulangkali mengajak Anda ke sebuah restoran, dan waitress-nya tampak akrab dengannya. Apakah si waitress pernah menanyakan nama mantannya? Apakah pelayan tersebut akan mengantar Anda ke meja yang itu-itu saja? Jika ya, mungkin saja itu tempat favorit mereka, dan meja tersebut adalah spot favorit si dia dan mantannya.
9. Pasangan merasa terganggu saat mendengar kabar mantannya punya pasangan baru. Ia terus membicarakan pria yang sekarang jadi pasangan mantannya,atau ia mencibir tentang hubungan mantannya? Anda pasti muak sekali mendengarnya. Segera ajak ia berbicara, dan tanyakan, mengapa ia seolah terganggu dengan kondisi mantannya tersebut.
Monday, June 14, 2010
Seks Makin Nikmat Dibantu Cairan Lubrikasi
Kurangnya foreplay atau ketika Anda sedang tidak mood bercinta sering menyebabkan kurangnya kadar pelumas pada vagina. Bila dipaksakan melakukan penetrasi, vagina tentu akan terasa perih. Padahal, kadang-kadang Anda sedang dijadwalkan melakukan hubungan seksual. Misalnya, ketika sedang memprogram untuk kehamilan.
Vagina juga cenderung menjadi kering ketika Anda sedang dalam masa menyusui, memasuki masa menopause, atau akibat keadaan hormonal, yakni saat menjelang datang bulan.
Menurut Debby Herbenick PhD, penulis buku Because it Fells Good: A Womans guide to Sexual Pleasure and Satisfaction, pada saat seperti itu Anda dapat menggunakan cairan lubrikasi. Cairan pelumas digunakan untuk membantu Anda mengurangi rasa nyeri (sebagai pelicin) saat berhubungan seksual. Keuntungan lain dari penggunaan lubricant adalah meningkatkan kenikmatan dalam bercinta.
''Penelitian membuktikan bahwa cairan pelumas terkait erat dengan kenikmatan dan kepuasan dalam masturbasi atau hubungan seksual ketimbang hubungan seks yang tidak menggunakan pelumas,'' imbuh Herbenick.
Cairan pelumas yang baik akan membuat Anda terhindar dari rasa frustrasi dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kepuasan.
''Pertambahan usia dan frekuensi hubungan seksual yang berkurang akan membuat waktu yang dibutuhkan untuk menstimulasi vagina akan makin bertambah. Nah, pelumas bisa membantu Anda dan pasangan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menstimulasi vagina,'' papar Dr Ava Cadell, loveologist dan pendiri Loveology University, universitas online untuk pelatihan relationship.
Penggunaan cairan ini juga mempermudah tubuh untuk siap melakukan hubungan seks meskipun Anda sedang tidak berhasrat.
Produk lubricant bisa Anda peroleh di apotek-apotek atau toko obat.
Thursday, June 3, 2010
Sayang, Kita Kapan Nikahnya?"
Jangan Ragu Mencari Kepastian
Menginjak usia tertentu, sebenarnya setiap orang sudah bisa mengetahui, atau paling tidak bisa mengira-ngira tentang apa yang hendak dicarinya ketika menjalin hubungan. Menurut Roslina Verauli, psikolog dari RS Pondok Indah Jakarta, pada umur sekitar 20 tahunan, rata-rata perempuan sudah mencari kekasih untuk dijadikan calon pendamping hidup.
"Untuk masalah pernikahan, perempuan memiliki patokan berupa 'biological clock' dan '
sociological clock'," ujar Roslina yang akrab dipanggil Vera. Yang pertama adalah kondisi tubuh secara biologis, yang akan memengaruhi kemungkinan perempuan tersebut untuk memiliki keturunan. Yang kedua adalah batas usia tertentu yang menurut pandangan masyarakat sudah mencapai kesiapan umur untuk menikah.
Menurut Vera, jika memang Anda sudah lelah melakukan petualangan cinta dan merasa sudah waktunya menemukan pendamping hidup, maka tak perlu menunggu lama untuk menjajaki ke mana sebenarnya hubungan cinta Anda akan mengarah, "Ajak pasangan berdiskusi mengenai masa depan hubungan. Jangan ragu, karena ini semata-mata adalah demi kebaikan diri Anda dan dia. Setiap orang berhak memilih yang terbaik dalam hidupnya, bukan?" Vera meyakinkan.
It's Complicated = Bermasalah dengan Komitmen
Sebagai langkah awal, Anda bisa terlebih dulu menakar kesiapan pasangan dengan mengajaknya berdiskusi tentang masa depannya sendiri. "Tanyakan apa yang ada dalam rencananya dalam waktu beberapa tahun ke depan. Jika dia hanya berbicara tentang karier atau kehidupan pribadi tanpa mengungkit keinginannya untuk berkeluarga, maka besar kemungkinan ia memang belum ingin menikah. Terlebih apabila ia sering terlihat gugup atau mengalihkan topik obrolan yang mengarah pada pernikahan," ujar Vera.
Jika Anda memang berniat membawa hubungan ke tahap serius, katakan saja terus terang kepadanya. Secara baik-baik, tanyakan penyebab dia enggan menikah." Jangan percaya alasan 'belum mapan' atau 'ada masalah keluarga'. Boleh jadi alasan sebenarnya adalah karena dia merasa Anda bukan perempuan yang cocok, dia punya perempuan idaman lain, atau karena kekasih Anda mengidap sindrom peter pan complex, yang membuatnya menghindari tanggung jawab dan ingin selamanya bebas dari kewajiban," kata Vera.
Yang harus dilakukan selanjutnya adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah Anda bersedia terus menjalani hubungan yang tidak mengarah ke mana-mana, alias hubungan berstatus "it's complicated", seperti status dalam situs Facebook? Pasalnya, menurut Vera, sebenarnya suatu hubungan cinta yang sehat tidak akan pernah berkembang menjadi hubungan yang rumit atau complicated, apabila salah satu pihak tidak memiliki masalah dalam berkomitmen dengan pasangannya.
Lebih Efektif Mengultimatum Diri Sendiri
Lantas, bolehkah memberikan ultimatum kepada pasangan yang masih memiliki pendirian tidak tetap soal pernikahan? "Sebenarnya, berdiskusi itu lebih efektif ketimbang memberikan ultimatum. Pasalnya, dengan berdiskusi, Anda bisa mencari tahu akar permasalahan yang membuat si dia enggan menikah. Lagipula, bukankah akan lebih afdol apabila sebuah komitmen dilandasi oleh niat baik dari kedua belah pihak, ketimbang didasari sebuah paksaan?" kata Vera.
Namun, apabila diskusi dengannya tak kunjung sampai pada titik yang Anda harapkan, maka sah-sah saja memberikan ultimatum kepadanya. Misal, "Kalau kamu tidak berniat menikahi saya, lebih baik kita putus saja," jika ia minta waktu untuk berpikir, maka berikanlah tenggat waktu yang kira-kira cukup baginya. Bersikaplah tegas untuk melaksanakan konsekuensi yang Anda katakan apabila tenggat waktu itu usai dan dia masih belum juga menentukan sikap. Artinya, menyudahi hubungan Anda dengannya.
"Ketegasan sikap tersebut menentukan nilai diri Anda di hadapan pasangan dan seberapa besar Anda menghargai diri sendiri. Apabila Anda sampai berulang kali memberikan ultimatum dan berulang kali pula tidak menaati konsekuensinya, maka ultimatum Anda berikutnya tak ubahnya menjadi sebuah ancaman kosong," ucap Vera.
Makanya, akan lebih efektif apabila Anda memberikan ultimatum kepada diri sendiri. Berikan tenggat waktu kepada diri Anda sendiri untuk menanti kesiapan pasangan. Bila ia memang tidak mampu memenuhi harapan Anda, maka tak perlu mengulur waktu untuk berpaling ke lain hati. Jangan takut menyesal dan khawatir tidak menemukan pria pengganti yang sekualitas. Lebih baik menjajal kemungkinan baru ketimbang memaksakan diri berada di samping pria yang tak berniat mendampingi Anda seumur hidup, kan?